Siapa yang tahu
terkadang saat kita bersembunyi dibalik nyatanya rasanya tidak mungkin. Iyah…
mungkin seperti itulah kita. Siapa yang sangka takdirnya akan membawa
kita pada satu genggaman bahkan satu langkah. Entah mungkin juga, takdir
mempermainkan kita. Aku dan kamu.
Apa yang dapat kita
ceritakan saat jalan kita masih terasa datar. Tersandung kerikil pun baru satu
goresan yang terluka. Kalau kita atur dengan sketsa tiap jalan kita terasa
rumit. Karena banyak kesalahan. Banyak yang dipertimbangkan, banyak keegoan dan
banyak aturan yang harus kita langgar. Jika memang hati dapat dikacamatakan dari
segi kebaikan. Dimana letak kebaikan kita? Tidak
ada. Tetapi hati tetaplah hati yang hanya akan berdiri sendiri, hidup
sendiri, dan akan selalu menyatakan
dirikulah yang benar. Melepaskan ?? masih
belum bisa, anggap saja kita masih tersesat dan akan menemukan titik terangnya.
Satu tahun, dua tahun atau bahkan
bertahun-tahun yang akan datang dengan cerita apalagi semuanya akan terjadi.
Melibatkan perasaan yang tiap detiknya hanya berfikir dan menemukan jawaban dari
khayalan seandainya waktu lebih
cepat. Terasa konyol memang jika semuanya disangkut pautkan dengan waktu.
Hanya kita saja yang terus mencari alasan untuk tidak dibenarkan.
Sekarang apa??
Bahasakan saja semuanya. Apakah cerita itu akan berujung pada titik terindah
atau bahkan menghujam dengan sangat tiap hati kita. Pilihannya adalah. Jalani. Secara bodohnya entah itu
akan tersungkur beribu kali kemudian jalan lagi masa bodoh jika memang harus
begitu. Dengarkan saja orang yang akan menyatakan kita salah dan ini bukan
jalannya. Pernah mereka rasa bagaimana lelahnya hati menyampingkan ego,
bagaimana lelahnya kita bangkit dari pengecapan kata “ salah”, bagaimana lelah
dan sakitnya kita karena tersungkur
jalan yang ada di belakang.
Maaf jika semuanya
tidak bisa dibahasakan bagaimana layaknya seorang pencinta yang mencintai
cintanya. Yang pasti tidak harus
terangkai dengan pena hitam yang bahkan setiap kesalahan dari tinta pena itu
dapat dihapuskan. Kita tidak sama. Mengapa harus sama kalau kita memang
berbeda. Cukup dari kejauhan. Bahkan kadang
kita tertawa hanya karena pembuktian cinta semuanya berbuntut pada kesalahan.
Kita berbeda, hanya bagaimana perbedaan itu meluruskan semuanya. Terimakasih,
kau adalah anugerah terindah yang kumiliki.
by : R